Di tengah potensi sumber pangan yang melimpah di Ende, terlihat adanya masalah serius terkait gizi anak-anak di daerah tersebut. Hal ini membuat Maria, seorang pengamat lokal, berpikir bahwa kendala ini lebih banyak disebabkan oleh pola asuh yang kurang tepat daripada faktor kekurangan makanan.
Dia menjelaskan bahwa banyak orang tua di Ende yang bekerja sebagai petani, dan saat musim tanam tiba, mereka sering kali harus meninggalkan anak-anak mereka untuk waktu yang lama. Pekerjaan yang memerlukan mereka pergi ke kebun memaksa banyak orang tua untuk meninggalkan anak-anak mereka, yang berimplikasi buruk pada pemenuhan kebutuhan gizi anak.
Maria mencatat bahwa banyak orang tua mengandalkan kakek nenek untuk mengasuh anak mereka, tetapi kondisi ini tidak menjamin kebutuhan nutrisi anak-anak terpenuhi dengan baik. Baik anak yang dibawa ke kebun maupun yang ditinggal di kampung sering mengalami penurunan status gizi yang signifikan.
Pola Asuh Berpengaruh Terhadap Gizi Anak di Ende
Unsur utama yang menyebabkan krisis gizi anak di Ende adalah pola asuh yang dipengaruhi oleh kesibukan orang tua. Ketika mereka sibuk dengan pekerjaan di kebun, perhatian terhadap kebutuhan nutrisi anak sering kali terabaikan. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana pola asuh tersebut dapat diperbaiki.
Maria berpendapat bahwa kesadaran akan pentingnya gizi harus ditanamkan sejak dini kepada orang tua. Mereka perlu memahami bahwa meskipun sumber makanan melimpah, pengasuhan yang baik adalah kunci untuk memastikan anak-anak mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan.
Dia menyarankan agar terdapat program pelatihan bagi orang tua tentang cara mengolah makanan yang bergizi, serta cara mengasuh yang lebih baik. Pengetahuan ini sangat penting agar para orang tua dapat menerapkan praktik pengasuhan yang baik meski sedang sibuk bekerja.
Tantangan dan Solusi untuk Pengasuhan Anak
Saat musim tanam, tantangan bagi orang tua semakin bertambah karena mereka harus membagi perhatian antara pekerjaan dan pengasuhan. Maria menekankan pentingnya kerjasama antar orang tua untuk mengatasi masalah ini. Dengan saling membantu dalam pekerjaan, mereka bisa memiliki waktu lebih untuk anak-anak mereka.
Bukan hanya itu, Maria juga mengusulkan agar di kebun dibuat kelompok khusus yang fokus pada pengasuhan anak. Kelompok ini bisa berfungsi sebagai penjamin bahwa kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi, meskipun orang tua mereka sedang bekerja.
Hal ini diharapkan dapat mengurangi dampak negatif dari ketidakcukupan pengasuhan yang terjadi selama musim tanam. Dengan cara ini, anak-anak tidak hanya akan mendapat pengawasan, tetapi juga mendapatkan makanan bergizi selama orang tua mereka bekerja.
Potensi Sumber Pangan yang Belum Dimaksimalkan
Maria menyebutkan bahwa daerah Ende dikenal sebagai Surga Firdaus karena memiliki tanah yang subur dan kaya akan sumber pangan. Namun, meskipun tanahnya subur, pengetahuan tentang pengolahan dan penyajian makanan bergizi sangat minim di kalangan warganya.
Dia menegaskan bahwa para orang tua perlu diberikan pendidikan yang tepat mengenai cara mengolah makanan agar menjadi lebih bernutrisi. Hal ini penting untuk memastikan bahwa anak-anak tidak hanya mendapatkan makanan dalam jumlah yang cukup, tetapi juga makanan yang berkualitas.
Tidak hanya dalam hal pengolahan, tetapi waktu juga menjadi faktor penting. Maria mendorong agar orang tua dan anak dapat bekerja sama dalam kegiatan pertanian dengan lebih efisien, sehingga anak-anak tidak lagi dibiarkan tanpa perhatian dalam waktu yang lama.
















