Perum Bulog Kanwil Sumatra Utara tengah memastikan ketersediaan pangan dalam situasi darurat dengan menyiagakan stok beras mencapai 73 ribu ton. Gudang-gudang yang tersebar di 35 unit akan menjadi garda terdepan menangani dampak bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah tersebut.
Keberadaan beras ini sangat penting, terutama di daerah-daerah yang terkena dampak langsung dari bencana. Pemimpin Wilayah Bulog Sumut, Budi Cahyanto, menegaskan bahwa alokasi beras untuk masyarakat yang terdampak mencapai 6.527 ton, termasuk bagi sekitar 1,8 juta jiwa yang terpengaruh.
Dari jumlah tersebut, sampai saat ini, sebanyak 4.551 ton telah berhasil disalurkan kepada 1,3 juta warga. Bulog berkomitmen untuk memastikan semua kebutuhan pangan masyarakat tercukupi dalam situasi yang tidak menentu ini.
Kesiapsiagaan Gudang Pangan di Wilayah Terdampak Bencana
Penyebaran gudang-gudang Bulog di 18 titik, termasuk di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, memungkinkan distribusi beras yang cepat dan efisien. Setiap gudang telah dilengkapi dengan stok cadangan yang memadai untuk menjamin keamanan pangan di wilayah yang sering mengalami bencana.
Menurut Budi, persediaan beras tersebut akan terus dipantau dan siap disalurkan kapan saja. Ini menjadi langkah proaktif untuk menghindari kelangkaan pangan yang dapat terjadi akibat kondisi darurat yang tak terduga.
Ketersediaan 1.976 ton beras di gudang Bulog menjadi salah satu bukti bahwa mereka siap menghadapi situasi krisis. Dengan adanya cadangan ini, penyaluran dapat dilakukan secepat mungkin, terutama dalam waktu yang kritis seperti saat bencana alam.
Potensi Gangguan Pasokan Bahan Pangan Akibat Bencana
Bencana banjir dan tanah longsor di Sumatra Utara pada akhir November 2025 menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan pangan. Kerusakan lahan yang merupakan sumber pertanian masyarakat dan terputusnya jalur logistik menjadi tantangan berat untuk mempertahankan ketersediaan pangan.
Cahaya buruk akibat kerusakan lahan pertanian akan mengurangi produksi beras dan bahan pangan lain seperti minyak goreng dan gula pasir. Kondisi ini ditambah dengan naiknya permintaan masyarakat menjelang libur Natal dan Tahun Baru.
Tekanan terhadap pasokan bahan pangan semakin meningkat, sehingga langkah antisipasi menjadi sangat penting. Bulog harus dapat memastikan bahwa kebutuhan pangan dapat terpenuhi dengan baik untuk mengatasi potensi kelangkaan yang mungkin terjadi.
Upaya Penyaluran Bantuan Pangan ke Wilayah Terpencil
Selain membantu masyarakat di Sumatra Utara, Bulog juga aktif menyalurkan bantuan beras ke daerah lain yang juga mengalami kesulitan. Beberapa bagian di Provinsi Aceh, misalnya, menerima bantuan beras sebanyak 340 ton.
Wilayah-wilayah seperti Tamiang, Takengon, dan Gayo Lues mendapatkan alokasi yang signifikan untuk memastikan semua masyarakat mendapatkan kebutuhan dasarnya. Kolaborasi dengan berbagai pihak seperti BPBD dan Pemprov Sumut sangat penting untuk kelancaran distribusi.
Pemanfaatan jalur udara dan laut dalam distribusi bantuan juga menunjukkan komitmen Bulog untuk menjangkau daerah-daerah terpencil. Dengan bantuan TNI, pengiriman beras ke lokasi-lokasi sulit ini dapat terlaksana dengan lebih efisien dan cepat.
Kendala dan Tantangan di Lapangan saat Distribusi Bantuan Pangan
Tantangan di lapangan dalam mendistribusikan bantuan pangan cukup kompleks. Jalur logistik yang terputus akibat bencana mengharuskan Bulog untuk mencari rute alternatif yang aman untuk distribusi.
Selain itu, faktor geografis di beberapa daerah, seperti daerah terpencil, juga menjadi kendala tersendiri dalam menyalurkan bantuan. Hal ini mengharuskan Bulog untuk memiliki strategi yang matang dan cadangan logistik yang baik.
Meski banyak tantangan, upaya keras dari Bulog dan dukungan masyarakat setempat diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut. Kesigapan dalam memberikan bantuan sangat vital untuk mendukung ketahanan pangan di saat-saat yang kritis.














