Perusahaan Umum Badan Usaha Logistik (Perum Bulog) telah melaporkan penyaluran lebih dari 53 ribu ton beras sebagai bantuan untuk korban bencana alam di Sumatra. Bencana yang terjadi pada akhir November 2025 ini menyebabkan banyak masyarakat yang terdampak, dan hingga pertengahan Januari 2026, Bulog terus berupaya memberikan dukungan kebutuhan pokok bagi mereka.
Bantuan beras ini disalurkan ke tiga provinsi yang paling parah terpengaruh, yaitu Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Dalam rapat dengan Komisi VI DPR RI, Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengungkapkan bahwa bantuan juga mencakup minyak goreng dan program Corporate Social Responsibility (CSR) yang tengah digulirkan oleh mereka.
Melihat dampak bencana yang parah, Rizal menjelaskan bahwa penyaluran bantuan dilakukan secara sistematis untuk memperkuat suplai pangan di setiap daerah. Selain itu, Bulog juga berusaha memenuhi permintaan tambahan dari pemerintah daerah terkait kebutuhan beras.
Strategi Penyaluran Bantuan Pangan di Sumatra
Dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat, Bulog mencatat adanya permintaan dari pemerintah Aceh untuk tambahan beras. Awalnya mereka meminta 10 ribu ton, namun oleh Bulog, jumlah tersebut ditingkatkan menjadi 30 ribu ton demi memastikan tidak ada masyarakat yang tertinggal dalam mendapatkan kebutuhan pangan.
Penting untuk memastikan distribusi bantuan berjalan cepat, Bulog mengaktifkan stok beras di bandara dan pelabuhan utama wilayah terdampak. Di kota-kota ini, Bulog telah menyiapkan 50 ton beras setiap hari untuk memenuhi permintaan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) atau kepolisian setempat.
Data menunjukkan bahwa cadangan beras pemerintah yang telah disalurkan untuk bencana mencapai 14.435 ton di Aceh, 5.098 ton di Sumatra Utara, dan 1.069 ton di Sumatra Barat. Meskipun demikian, Bulog memastikan stok beras yang masih tersedia terbilang aman dan cukup untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek.
Kesiapan Stok dan Tantangan di Lapangan
Bulog juga sedang mempersiapkan stok tambahan menghadapi tradisi Meugang menjelang bulan Ramadan di Aceh. Rizal menekankan pentingnya tidak hanya memenuhi kebutuhan saat bencana, tetapi juga memastikan ketersediaan pangan saat momen-momen khusus seperti itu.
Di samping beras, Bulog juga memastikan pasokan minyak goreng dan gula tetap ada di pasar. Tindakan ini diambil untuk mencegah terjadinya kelangkaan bahan pangan setelah bencana terjadi.
Tantangan distribusi tetap ada, terutama di daerah-daerah terisolir seperti Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah. Untuk itu, Bulog memanfaatkan jalur darat dan udara, serta berkolaborasi dengan TNI untuk memastikan bantuan sampai tepat waktu kepada masyarakat yang membutuhkan.
Penyaluran Bantuan Lainnya untuk Korban Bencana
Selain beras dan minyak goreng, Bulog juga menyalurkan bantuan berupa sembako, pakaian layak pakai, dan peralatan sehari-hari kepada para korban bencana. Program CSR yang dijalankan oleh Bulog diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat yang sedang mengalami masa sulit ini.
Melalui berbagai bantuan yang disalurkan, Bulog bertekad untuk memberikan dukungan penuh kepada mereka yang terdampak. Upaya ini merupakan bagian dari komitmen Bulog dalam menjaga ketersediaan bahan pangan bagi masyarakat di seluruh Indonesia.
Penting juga bagi masyarakat untuk tetap berperan aktif dalam memberdayakan diri mereka sendiri pasca-bencana. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat, sangat penting dalam proses pemulihan ini.












