Dampak ekonomi global di tahun 2026 diperkirakan tidak akan mengalami lonjakan signifikan. Berdasarkan pandangan para pelaku usaha, tantangan seperti daya beli yang rendah dan ketidakpastian kebijakan masih membayangi berbagai sektor industri.
Meski terdapat harapan akan pemulihan dari aspek makroekonomi, banyak pengusaha merasa khawatir tentang keberlanjutan program efisiensi anggaran pemerintah yang berpotensi memengaruhi kinerja mereka. Rangkuman proyeksi yang diperoleh menunjukkan perlunya perhatian dan langkah strategis dalam menghadapi tahun yang akan datang.
Industri perhotelan menjadi salah satu sektor yang merasakan dampak ini. Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia mengkhawatirkan keberlanjutan dukungan anggaran pemerintah yang biasanya menjadi tulang punggung operasional mereka.
Proyeksi Pertumbuhan Sektor Pariwisata dan Perhotelan di 2026
Menurut pengamatan beberapa asosiasi, prospek industri perhotelan pada tahun 2026 terlihat belum sepenuhnya menjanjikan. Hal ini disebabkan oleh pemotongan anggaran transfer dari pemerintah pusat ke daerah yang sebelumnya sangat berpengaruh terhadap aktivitas pariwisata.
Terlebih lagi, Maulana Yusran menekankan pentingnya percepatan belanja pemerintah, terutama di kuartal pertama yang dikenal lambat untuk industri ini. Ia berharap momentum seperti perayaan Imlek dan Ramadan dapat meningkatkan okupansi hotel meskipun tidak merata di seluruh daerah.
Ketidakpastian dalam kebijakan pemerintah membuat PHRI belum dapat menetapkan proyeksi okupansi secara akurat. Pelaku industri pariwisata berharap adanya kebijakan yang lebih jelas untuk menyokong kegiatan sektor ini.
Kondisi Industri Ritel dan Tantangan ke Depan
Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia memperkirakan ada peningkatan dalam kunjungan ke pusat perbelanjaan pada 2026. Kenaikan ini diprediksi berada di kisaran 10 persen dibanding tahun sebelumnya seiring dengan berbagai momentum positif di triwulan pertama.
Sementara itu, ia mengingatkan bahwa ada risiko perlambatan yang harus diwaspadai di pertengahan tahun. Semua ini terjadi ketika banyak faktor ekonomi memainkan peran, baik dari upah minimum hingga tunjangan hari raya yang menciptakan fluktuasi dalam daya beli masyarakat.
Melihat dari sudut pandang ini, penting bagi para pemangku kepentingan untuk menetapkan strategi yang solid untuk menghadapi masa ‘low season’. Hal ini tentu memerlukan kerjasama antara pelaku industri dan pemerintah.
Proyeksi Ekonomi 2026 dalam Perspektif Pengusaha
Pandangan dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia menunjukkan bahwa kondisi perekonomian 2026 akan memperlihatkan adanya perbaikan tipis dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, perlu dicatat bahwa pertumbuhan tersebut tidak dapat dirasakan secara merata di berbagai wilayah dan segmen pendapatan.
Diperkirakan, angka pertumbuhan ekonomi akan berada di kisaran 5,3 hingga 5,4 persen, dengan inflasi tetap terjaga. Namun, daya beli masyarakat, khususnya kalangan menengah, masih rentan dan memerlukan perhatian lebih agar tidak terpuruk.
Pengusaha menyampaikan kepentingan untuk menjaga stabilitas kondisi ini agar daya beli masyarakat tidak terganggu. Adanya program sosial dan belanja pemerintah akan berperan penting dalam mendukung konsumsi masyarakat.
Pandangan Sektor Industri Tekstil di Tahun 2026
Industri hulu, khususnya tekstil, berpotensi menghadapi tantangan berat di tahun 2026. Pengusaha dalam sektor ini menyebutkan bahwa mereka masih perlu berjuang melawan produk impor yang menyebabkan tekanan pada harga dan volume penjualan mereka.
Ketidakpastian yang dialami industri ini berakar dari sejauh mana transparansi kebijakan impor dapat diperoleh. Hal ini sangat berpengaruh pada perencanaan produksi mereka di masa yang akan datang.
Tanpa adanya perbaikan dari sisi kebijakan pemerintah, dikhawatirkan banyak perusahaan tekstil yang akan menghadapi kemungkinan penutupan yang lebih luas. Kesulitan dalam bersaing dengan produk luar menambah beban bagi pelaku industri ini.
Melihat semua proyeksi ini, tampak bahwa meskipun tahun 2026 menyimpan potensi untuk pemulihan, tantangan tetap ada. Daya beli yang masih tertekan dan ketidakpastian kebijakan fiskal serta perdagangan akan menjadi faktor penentu kinerja dunia usaha di tahun mendatang.















