Pemutusan hubungan kerja (PHK) telah menjadi isu yang mendominasi diskusi tentang pasar tenaga kerja global. Pada tahun 2025, fenomena ini semakin meningkat, terutama dipicu oleh kemajuan kecerdasan buatan (AI) yang menjadi alat efisiensi yang menarik bagi banyak perusahaan.
Jumlah PHK yang dicatat mencapai angka yang mencengangkan, dengan lebih dari 1,17 juta orang kehilangan pekerjaan di Amerika Serikat. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak awal pandemi Covid-19, yang menunjukkan betapa besarnya dampak ekonomi dari keputusan strategis yang didorong oleh teknologi.
Tekanan yang muncul dari inflasi dan biaya operasional yang meningkat membuat banyak perusahaan beralih ke solusi otomatisasi. Kecerdasan buatan dianggap mampu memberikan jalan keluar, dengan studi dari MIT menunjukkan bahwa hampir 11,7% pekerjaan di AS telah terpengaruh oleh teknologi ini.
Dampak Kecerdasan Buatan pada Tenaga Kerja di Berbagai Sektor
Perusahaan-perusahaan besar yang mengimplementasikan strategi PHK yang berhubungan dengan AI menunjukkan bahwa perubahan ini tidak bisa diabaikan. Amazon, misalnya, mengambil langkah untuk memangkas 14.000 posisi, dengan bahasa yang jelas mengaitkan keputusan tersebut dengan investasi dalam proyek AI.
Microsoft tidak ketinggalan, memangkas sekitar 15.000 karyawan dan menekankan bahwa transformasi digital menjadi dorongan utama untuk perubahan dalam struktur tenaga kerja. CEO Satya Nadella pun mencatat bahwa kebutuhan akan tenaga kerja telah berubah seiring kemajuan AI.
Selain itu, Salesforce telah mengadopsi pendekatan yang sama dengan memangkas 4.000 posisi layanan pelanggan, menunjukkan bagaimana perusahaan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi yang terus berubah. Penekanan pada efisiensi biaya menjadi alasan utama di balik keputusan tersebut.
Pola PHK dalam Konteks Ekonomi Global
Seiring dengan meningkatnya jumlah PHK, ada kekhawatiran bahwa tren ini bisa melemahkan pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung. Banyak pekerja yang terdampak mungkin menemukan diri mereka di pasar tenaga kerja yang semakin ketat, di mana keterampilan yang dimiliki tidak lagi relevan.
Pendidikan dan pelatihan kembali menjadi aspek penting dalam mendukung pekerja agar dapat beradaptasi dengan kebutuhan industri yang berubah. Perusahaan perlu berinvestasi dalam program pengembangan keterampilan untuk membantu individu yang terkena dampak PHK agar bisa lebih berkompetisi di bidang yang lebih membutuhkan.
Di sisi lain, perlu diingat bahwa tidak semua PHK disebabkan oleh faktor teknologi. Beberapa analis berpendapat bahwa banyak perusahaan mengalami kelebihan pegawai setelah periode pertumbuhan yang pesat selama pandemi. Oleh karena itu, restrukturisasi menjadi hal yang diperlukan agar perusahaan bisa kembali optimal.
Kritik terhadap Penggunaan AI sebagai Alasan PHK
Kritik terhadap kecenderungan perusahaan untuk menyalahkan AI sebagai penyebab PHK mencuat dari berbagai kalangan. Beberapa akademisi berpendapat bahwa alasan ini sering kali menjadi kambing hitam untuk menyembunyikan pengelolaan tenaga kerja yang buruk dan kesalahan strategi perekrutan sebelumnya.
Fabian Stephany dari Oxford Internet Institute menegaskan bahwa banyak PHK saat ini lebih merupakan upaya perusahaan untuk memperbaiki kesalahan perekrutan yang dilakukan di masa lalu. Menurutnya, proses ini menunjukkan bahwa perusahaan sering kali enggan untuk mengakui kesalahan dan lebih nyaman menyalahkan faktor eksternal.
Penting untuk memahami bahwa kemajuan teknologi seperti AI seharusnya tidak dijadikan alasan untuk menurunkan rasa tanggung jawab terhadap karyawan. Perusahaan tetap memiliki kewajiban untuk mengelola sumber daya manusianya dengan bijaksana, terlepas dari seberapa canggih sistem otomatisasi yang mereka terapkan.















