Dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh AFP pada Rabu, 14 Januari 2026, berbagai tanggapan mengemuka dari turis asing mengenai isu kenaikan harga tiket. Salah satu yang paling mencolok adalah pernyataan Kevin Flynn, seorang wisatawan asal Australia berusia 60-an, yang merasa bahwa harga tiket terbaru untuk pengunjung non-Eropa masih dapat diterima.
“Harganya setara dengan banyak tempat di Italia dan Malta,” kata Flynn, membandingkan dengan destinasi lain di Eropa. Namun, situasi ini tidak dihadapi sama oleh semua pengunjung, seperti yang disampaikan Joohwan Tak dari Korea Selatan yang menilai kenaikan itu ‘tidak adil’.
Dia berpendapat bahwa kesetaraan seharusnya dijunjung tinggi dalam dunia perjalanan. Marcia Branco, seorang pengunjung dari Brasil, menambahkan bahwa meskipun di negara lain mungkin ada perbedaan tarif, dia merasa tidak seharusnya ada perbedaan demikian di tempat yang dianggap kaya seperti Paris.
Tahun lalu, pada Januari 2024, Louvre telah meningkatkan biaya masuk standard dari 17 euro menjadi 22 euro untuk pengunjung sebagian besar dari negara non-Uni Eropa. Kebijakan ini akan berpengaruh besar terhadap para wisatawan yang seringkali adalah penyumbang terbanyak bagi sektor pariwisata Paris.
Sikap Beragam Turis Terhadap Kenaikan Harga Tiket Louvre
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan, reaksi turis sangat beragam terkait dengan kenaikan harga ini. Beberapa merasa bahwa harga baru tersebut tetap dalam batas wajar jika dibandingkan dengan destinasi wisata lain. Ini menunjukkan bahwa sudah menjadi hal yang umum bagi para pelancong untuk menyesuaikan diri dengan perubahan biaya yang ada.
Namun, ada juga turis yang merasa dirugikan, seperti Joohwan yang merasa bahwa semua orang seharusnya diperlakukan sama dalam hal biaya untuk bisa menikmati keindahan seni dan budaya. Anggapannya mencerminkan keresahan global mengenai ketidakadilan sosial.
Dalam dunia perjalanan yang semakin mengglobal, perdebatan mengenai keputusan ini semakin memanas. Kenaikan yang baru dirasakan ini tidak hanya berdampak pada industri pariwisata, tetapi juga pada persepsi wisatawan terhadap keadilan ekonomi dalam konteks global.
Dampak Kenaikan Harga terhadap Pariwisata dan Ekonomi Lokal
Kenaikan harga tiket bisa jadi langkah strategis untuk menyeimbangkan permintaan dan penawaran serta melindungi daya tarik wisata. Namun, harus diingat bahwa hal ini juga dapat membuat beberapa turis berpikir dua kali sebelum menentukan kunjungan mereka. Hal ini dapat menyebabkan penurunan jumlah pengunjung dari pasar tertentu, yang mungkin berpengaruh pada perekonomian lokal.
Seiring dengan meningkatnya biaya, pengelola objek wisata perlu mempertimbangkan dengan cermat cara untuk menarik dan mempertahankan pengunjung, terutama dari negara-negara non-Uni Eropa. Menciptakan paket wisata dan diskon, misalnya, bisa menjadi salah satu alternatif agar objektivitas tetap terjaga.
Pariwisata bukan hanya soal angka, tetapi juga terkait dengan pengalaman dan aksesibilitas. Diperlukan pemahaman yang mendalam bagi pengelola untuk menciptakan solusi berkelanjutan yang tetap menarik bagi para wisatawan.
Perspektif Wisatawan dan Harapan untuk Keadilan
Penting untuk mendengarkan suara para wisatawan dalam kasus seperti ini, sebab mereka yang mengalami langsung dampak dari keputusan tersebut. Dalam hal ini, harapan untuk menemukan keseimbangan antara keuntungan ekonomi dan keadilan bagi semua pihak semakin mendesak. Banyak yang berharap bahwa akan ada penghargaan terhadap diversitas dan pelaksanaan kebijakan yang lebih inklusif.
Beberapa pengunjung berpendapat bahwa harga yang tinggi dapat diimbangi dengan peningkatan fasilitas dan kualitas pengalaman wisata, sehingga membuatnya lebih berharga. Namun aspirasi ini harus sejalan dengan upaya untuk menjaga agar aksesibilitas tetap terjaga bagi semua lapisan masyarakat.
Ketika tarikan wisata terkemuka seperti Louvre semakin mahal, diharapkan dengan strategi yang tepat, banyak pihak akan merasakan manfaatnya. Upaya untuk menarik lebih banyak pengunjung dari beragam latar belakang menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pengelola objek wisata di masa depan.
















