Industri PC baru saja menghadapi tantangan signifikan yang dipicu oleh lonjakan harga beberapa komponen penting. Setelah harga GPU mulai stabil, kini memori RAM dan SSD mengalami peningkatan harga yang dramatis akibat kelangkaan komponen di seluruh dunia.
Penyebab utama dari krisis pasokan ini adalah permintaan yang melonjak akibat peningkatan jumlah pusat data kecerdasan buatan (AI), yang memengaruhi seluruh pasar perangkat keras.
Dampak Lonjakan Harga Komponen untuk Industri PC
Perubahan harga ini langsung memengaruhi banyak produsen di industri teknologi, yang terpaksa mengumumkan penyesuaian harga produk mereka. Misalnya, salah satu perusahaan terkemuka mengonfirmasi bahwa mulai Desember, seluruh sistem mereka akan mengalami kenaikan harga.
Pengumuman ini menyebutkan bahwa harga memori global (RAM) telah meningkat hingga 500 persen, sedangkan harga SSD melonjak sebesar 100 persen. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya kondisi pasar saat ini.
Permintaan untuk memori yang digunakan oleh server AI terus meningkat, terutama dalam hal DRAM untuk operasi jangka pendek dan NAND untuk penyimpanan jangka panjang. Fasilitas yang memproduksi chip untuk perangkat konsumen kini tidak dapat memenuhi kebutuhan pusat data tersebut.
Data dari beberapa lembaga riset menunjukkan bahwa harga kontrak DRAM pada kuartal ketiga mengalami lonjakan yang luar biasa, mencapai 171,8 persen. Kenaikan ini bahkan telah melebihi laju naik harga emas, menunjukkan betapa mendesaknya situasi ini.
Beberapa produsen dari negara tertentu bahkan terpaksa menghentikan atau membatasi pesanan untuk jenis memori tertentu. Hal ini mengindikasikan bahwa pasokan global benar-benar terpuruk.
Kenaikan Harga Memori di Pasar Ritel
Dampak dari kelangkaan pasokan sudah terasa di pasar ritel, dengan harga memori DDR4 dan DDR5 yang menunjukkan tren kenaikan. Data terbaru mencatat lonjakan harga yang signifikan sejak pertengahan tahun ini, dan peningkatan semakin tajam pada bulan September.
Dalam beberapa minggu terakhir, modul RAM dari beberapa merek terkenal juga mengalami kenaikan harga yang mencolok. Ini menjadi indikasi bahwa produsen tidak dapat memenuhi permintaan yang terus meningkat.
Di sisi lain, harga spot DRAM juga menunjukkan kenaikan yang drastis. Misalnya, harga DDR4 16Gb yang sebelumnya sekitar US$28 sekarang melonjak menjadi US$37. Begitu juga dengan DDR5 16Gb yang sebelumnya USD$20 kini menjadi US$33, mencerminkan daya tarik pasar yang semakin terbatas.
Para produsen memori menghadapi tantangan besar dalam memenuhi permintaan pelanggan besar. Stok DRAM, NAND, dan HBM dari salah satu produsen terkemuka bahkan telah habis terjual hingga tahun depan, menunjukkan masalah pasokan yang sangat serius.
Beberapa penyedia layanan cloud hanya bisa memenuhi sekitar 70 persen dari permintaan, sedangkan untuk OEM bahkan kurang dari 40 persen. Situasi ini mengarah pada kekosongan pasokan yang tak terhindarkan.
Penyebab Lonjakan Harga Memori dan Dampaknya
Dengan DDR5 yang dikenal sebagai teknologi terbaru, kenaikan harga DDR4 justru lebih mencolok. Hal ini disebabkan oleh peralihan produksi yang terfokus pada DDR5, sementara kebutuhan untuk DDR4 tetap tinggi dari kalangan konsumen. Akibatnya, terjadilah ketidakseimbangan pasokan.
Salah satu produsen memori terkemuka mengkhawatirkan kondisi pasar ini dan memperkirakan bahwa kelangkaan akan berlanjut hingga tahun depan. Mereka menyatakan bahwa pasar memori saat ini sangat optimis, meskipun dengan tantangan yang ada.
Dampak dari situasi ini membuat komponen RAM berpotensi menjadi salah satu elemen termahal dalam组rakitan PC. Ini adalah kondisi yang belum pernah terjadi selama lebih dari satu dekade, mengubah cara gamer dan perakit PC memandang pengeluaran mereka.
Sebagian besar produsen laptop juga mulai mempertimbangkan untuk menaikkan harga jual produk mereka akibat kondisi ini. Dampak dari kenaikan harga komponen sudah dirasakan di kalangan konsumen, yang harus bersiap membayar lebih mahal saat membeli perangkat baru.
Produsen besar seperti Lenovo bahkan telah memberi sinyal kepada pengecer tentang kemungkinan perubahan harga di tahun mendatang. Ini menandakan bahwa konsumen harus bersiap menghadapi lonjakan biaya yang signifikan dalam waktu dekat.















