Harga minyak mentah global mengalami sedikit peningkatan pada pembukaan perdagangan tahun 2026. Situasi ini muncul setelah tahun lalu mencatat penurunan terbesar dalam periode tahunan sejak 2020.
Kenaikan harga minyak sebagian besar dipicu oleh ketegangan geopolitik yang masih berlangsung, termasuk serangan drone yang dilakukan Ukraina terhadap fasilitas energi Rusia, serta tindakan tegas dari Amerika Serikat terhadap ekspor minyak Venezuela.
Menurut laporan terbaru, harga minyak mentah Brent mengalami kenaikan sebesar 14 sen, mencapai angka US$60,99 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga naik 14 sen, menyentuh level US$57,56 per barel.
Peningkatan harga ini menjelang peringatan yang penuh ketegangan antara Rusia dan Ukraina. Kedua negara saling menuduh melakukan serangan terhadap warga sipil, meskipun upaya mediasi dari berbagai pihak, termasuk Presiden AS, masih berlangsung.
Ukraina belakangan ini semakin gencar dalam serangan ke infrastruktur energi di Rusia. Tujuannya adalah untuk memutuskan sumber pendanaan yang digunakan Moskow untuk melanjutkan operasi militernya.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Minyak Global
Salah satu faktor penting yang mempengaruhi harga minyak adalah ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia. Ketidakstabilan ini sering mengarah pada spekulasi di pasar yang menyebabkan fluktuasi harga yang signifikan.
AS juga menerapkan tekanan pada Venezuela dengan menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan dan kapal tanker yang terlibat dalam industri energi negara tersebut. Kebijakan ini menjadi salah satu langkah untuk mempengaruhi perekonomian Venezuela melalui sektor energi.
Pemerintah AS berusaha mencegah kapal yang terkena sanksi beroperasi keluar masuk negara tersebut. Hal ini menyebabkan perusahaan energi milik negara, PDVSA, harus mengambil langkah-langkah drastis untuk menjaga kelangsungan operasionalnya.
Penurunan Harga Minyak Sepanjang 2025 dan Implikasinya
Sepanjang tahun 2025, baik harga minyak Brent maupun WTI mencatatkan penurunan mendekati 20 persen. Penurunan ini merupakan kerugian tahunan terbesar sejak 2020, dipicu oleh kekhawatiran mengenai over-supply dan dampak kebijakan tarif yang lebih signifikan dibandingkan risiko geopolitik.
Bagi minyak Brent, penurunan harga ini menjadi yang ketiga kalinya berturut-turut, menandakan periode penurunan terlama dalam sejarahnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar minyak global masih rentan terhadap perubahan dinamika yang cepat.
Di sisi lain, produksi minyak di Amerika Serikat mencapai tingkat tertinggi, yaitu 13,87 juta barel per hari pada bulan Oktober. Data dari Badan Informasi Energi AS menunjukkan bahwa meskipun terdapat penurunan harga, produksi tetap kuat.
Kondisi Pasar Minyak dan Sumber Daya Energi di Tahun 2026
Kondisi pasar minyak di tahun 2026 menunjukkan dinamika yang menarik di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat. Permintaan dan pasokan energi terlihat saling mempengaruhi dalam membentuk harga minyak global.
Dalam laporan terbaru, stok minyak mentah di AS mengalami penurunan pada pekan lalu. Namun, kenaikan dalam persediaan bensin dan distilat menunjukkan adanya kekuatan dalam aktivitas kilang yang tetap stabil.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun ada gejolak harga, industri energi di AS tetap mampu beradaptasi dan beroperasi dengan efektif. Hal ini penting untuk menjaga kestabilan dalam pasar minyak global.













