Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sedang melaksanakan upaya untuk meningkatkan keamanan di dunia digital. Hal ini dilakukan melalui peluncuran Indonesia Game Rating System (IGRS) yang bertujuan untuk mengatur akses anak-anak terhadap konten permainan online yang berisiko.
Dalam pernyataannya, Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Edwin Hidayat Abdullah, menegaskan pentingnya pengawasan terhadap berbagai permainan yang menjadi favorit di kalangan anak muda. Dia menggarisbawahi bahwa dampak negatif dari permainan tersebut merupakan isu global yang harus ditangani dengan serius.
Komitmen pemerintah dalam mengatasi masalah ini juga terwujud melalui kolaborasi dengan negara lain yang sudah lebih dulu menerapkan sistem klasifikasi usia pada permainan. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi potensi dampak buruk yang ditimbulkan oleh konten yang tidak sesuai bagi anak di bawah umur.
Pentingnya Mencegah Dampak Negatif Konten Digital untuk Anak
Masalah paparan konten tidak layak bagi anak-anak telah menimbulkan kepedulian di berbagai belahan dunia. Edwin menjelaskan bahwa penggunaan media sosial dan game online harus dilakukan dengan hati-hati, terutama oleh anak-anak dan remaja. Di banyak negara, ada kesepakatan bahwa pembatasan akses perlu dilakukan untuk melindungi kelompok rentan ini.
Saat ini, banyak negara telah menerapkan sistem rating yang membantu orang tua mengetahui permainan mana yang aman dimainkan oleh anak-anak mereka. Melalui sistem ini, setiap permainan diberi label usia sehingga orang tua bisa lebih mudah menentukan kebijakan penggunaan konten digital di rumah.
Contoh nyata dari penerapan sistem ini dapat dilihat pada beberapa popularitas game di luar negeri. Misalnya, game seperti PUBG dan Free Fire hanya dapat diakses oleh pemain di atas usia tertentu untuk melindungi anak-anak dari konten yang tidak sesuai.
Implementasi Indonesia Game Rating System (IGRS)
Peluncuran Indonesia Game Rating System (IGRS) merupakan langkah strategis untuk mengatur dan melindungi anak-anak dari dampak negatif permainan online. IGRS mengklassifikasikan permainan berdasarkan kategori usia, mulai dari Balita hingga 18 tahun ke atas. Ini artinya, setiap permainan yang dirilis harus memperhitungkan usia yang diperbolehkan untuk memainkannya.
Edwin menjelaskan bahwa publisher game diharuskan melakukan self-assessment sebelum merilis produk. Pihak pengembang harus menentukan rating yang sesuai untuk permainan mereka, memastikan bahwa konten tersebut tidak melanggar batasan yang telah ditetapkan.
Dalam proses ini, pemerintah juga telah membentuk tim khusus yang melakukan evaluasi terhadap permainan yang beredar di masyarakat. Tim ini bertujuan untuk memastikan bahwa permainan yang dimainkan sesuai dengan klasifikasi yang telah ditetapkan dan tidak membahayakan perkembangan anak-anak.
Peran Publisher dalam Memastikan Konten yang Aman
Publisher mempunyai tanggung jawab besar dalam menilai konten permainan yang mereka rilis. Edwin menyatakan bahwa mereka perlu melakukan evaluasi mendalam untuk menentukan apakah permainan itu cocok untuk kategori usia tertentu. Ini menjadi bagian penting dari sistem IGRS yang bertujuan untuk melindungi anak-anak dari konten yang merugikan.
Langkah ini juga diharapkan bisa mendukung industri game lokal agar tetap kreatif dan inovatif. Dengan adanya pengawasan yang tidak menghambat kreativitas, diharapkan pengembangan game yang berbasis edukasi yang lebih sehat dapat semakin berkembang.
Penting bagi publisher untuk memahami bahwa tidak semua permainan dapat dimainkan oleh semua usia. Hal ini menjadi landasan untuk melindungi generasi muda dari risiko yang siaga dalam dunia digital saat ini.
Kepentingan Membangun Ekosistem Digital yang Sehat
Komdigi berkomitmen untuk menciptakan ekosistem digital yang lebih aman dan sehat bagi semua pengguna, terutama anak-anak. Keberadaan sistem rating seperti IGRS bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan mengatur akses dan memberikan informasi, orang tua bisa memainkan peranan aktif dalam melindungi anak mereka.
Edwin menekankan bahwa meskipun ada pengawasan, kreativitas dalam pengembangan permainan tetap harus dipertahankan. Terdapat banyak jenis game yang mendukung pendidikan, seperti game sejarah, geografi, dan sains yang dapat digunakan sebagai sarana belajar.
Pemerintah berupaya dengan pelaksanaan IGRS untuk memastikan bahwa pelindungan terhadap anak-anak tetap menjadi prioritas utama, tanpa membatasi inovasi di industri game. Ini adalah solusi win-win untuk semua pihak yang terlibat.















