Ekonomi China diperkirakan akan tumbuh sebesar 5 persen pada tahun 2025, sesuai dengan target yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Angka ini merupakan hasil dari lonjakan ekspor yang terjadi akibat tingginya permintaan global terhadap produk-produk asal China.
Ketahanan ekonomi ini tidak lepas dari strategi yang diterapkan untuk menutupi lemahnya konsumsi domestik dan mengurangi dampak tarif yang diberlakukan oleh negara lain. Sektor industri menjadi fokus utama pemerintah untuk mencapai pertumbuhan yang ambisius.
Sejak runtuhnya sektor properti pada tahun 2021, pemerintah mulai mengalihkan sumber daya dari konsumsi masyarakat ke sektor industri. Hal ini dilakukan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja baru di sektor-sektor yang lebih produktif.
Strategi Ekonomi yang Berubah di China
Pemindahan fokus ke sektor industri membawa dampak positif dan negatif. Di satu sisi, produksi barang meningkat, namun di sisi lain, banyak pabrik mengalami surplus produksi yang berujung pada pencarian pasar internasional untuk menjual barang-barang mereka. Hal ini menandakan bahwa ketergantungan pada pasar domestik berkurang.
Dengan menciptakan pasar baru di luar negeri, produsen-produsen China berhasil mengisi celah yang ditinggalkan akibat penurunan ekspor ke AS. Tahun lalu, China mencatatkan surplus perdagangan sebesar US$1,2 triliun, mengalami peningkatan 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dukungan dari pemerintah dalam bentuk kebijakan yang kondusif untuk ekspor memungkinkan para produsen untuk mencari alternatif pasar. Keberhasilan ini menjadi pendorong bagi perekonomian China, terutama saat permintaan dari pasar internasional meningkat.
Dampak Eksportasi Terhadap Ekonomi Domestik
Meski terjadi lonjakan ekspor, hal ini tidak serta merta memulihkan kekuatan ekonomi dalam negeri. Sebagian besar pengamat mengingatkan bahwa pergeseran sumber daya harus diimbangi dengan peningkatan konsumsi domestik. Jika tidak, risiko pertumbuhan ekonomi yang melambat akan meningkat.
Proyeksi untuk tahun ini menunjukkan bahwa China menargetkan pertumbuhan sekitar 5 persen. Namun, survei yang dilakukan menunjukkan bahwa potensi pertumbuhan pada tahun 2026 akan mengalami penurunan menjadi 4,5 persen.
Para ekonom dan analis mengungkapkan bahwa tanpa adanya revitalisasi sektor konsumsi domestik, pertumbuhan ekonomi jangka panjang bisa terancam. Kesulitan dalam mengalihkan fokus kembali ke konsumsi masyarakat bisa menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan ekonomi China.
Menemukan Pasar Baru di Luar Negeri
Keberhasilan para produsen China dalam menerobos pasar baru memberikan harapan baru bagi pertumbuhan ekonomi. Banyak pabrik kini mulai memfokuskan perhatian pada negara-negara di Eropa dan Amerika Latin, sebagai strategi untuk mengurangi ketergantungan pada pasar yang terpengaruh tarif dari AS.
Menurut Dave Fong, salah satu pemilik pabrik di China selatan, mereka kini mampu berkembang pesat di pasar-pasar baru tersebut. Perubahan ini memberikan keuntungan kompetitif dan memastikan bahwa produk China tetap diminati di pasar global.
Situasi ini menunjukkan bagaimana adaptasi dan inovasi menjadi kunci dalam menghadapi tantangan yang ada. Semua pihak terkait di industri diharapkan dapat terus menemukan celah dan peluang dalam kondisi yang sulit ini.














