Pada pekan kedua bulan Desember 2025, harga pangan utama seperti bawang merah dan cabai mengalami lonjakan yang signifikan di berbagai wilayah. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya kenaikan yang meluas pada sejumlah komoditas, yang menunjukkan dampak perluasan indeks perkembangan harga (IPH) di banyak kabupaten dan kota.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengemukakan bahwa dari sebelas komoditas yang dipantau, sembilan di antaranya mengalami kenaikan harga. Hal ini semakin mengindikasikan bahwa kondisi perekonomian menjelang akhir tahun mengalami tekanan, baik dari sisi pasokan maupun permintaan.
Kenaikan harga bawang merah terpantau secara signifikan. Dengan jumlah kabupaten dan kota yang mengalami peningkatan IPH bawang merah meningkat dari 276 menjadi 301 dalam waktu seminggu.
Kenaikan Harga Bawang Merah dan Cabai di Berbagai Wilayah Indonesia
Secara nasional, rata-rata harga bawang merah mencapai Rp46.851 per kilogram, meningkat 15,28 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Harga tertinggi yang tercatat bahkan mencapai Rp100.000 per kilogram di beberapa daerah, termasuk di Kabupaten Lanny Jaya dan Intan Jaya.
Pudji menyebut bahwa kenaikan harga ini membuktikan bahwa hampir seluruh Indonesia merasakan dampaknya, dan wilayah-wilayah yang terdampak menjadi semakin banyak. Hal ini menandakan bahwa masalah pasokan menjadi semakin serius.
Cabai merah juga menunjukkan kenaikan harga yang signifikan, dengan rata-rata harga mencapai Rp59.665 per kg atau meningkat 10,73 persen. Tercatat 266 kabupaten/kota mengalami lonjakan tersebut, yang mempengaruhi lebih dari 70 persen wilayah Indonesia.
Pengaruh Cuaca terhadap Kenaikan Harga Pangan
Selain faktor pasokan yang terbatas, kondisi cuaca juga berpengaruh terhadap kenaikan harga cabai rawit. Rata-rata harga cabai rawit melonjak hingga 49,88 persen, dari Rp43.728 per kg menjadi Rp65.541 per kg. Kenaikan ini terjadi di hampir 75,56 persen wilayah Indonesia, menunjukkan betapa teruknya dampak cuaca terhadap produksi pangan.
Pudji menyatakan bahwa kondisi cuaca yang fluktuatif telah memengaruhi pertumbuhan tanaman hortikultura. Hal ini merupakan salah satu faktor penentu dalam dinamika harga, dan pelaku pasar harus cermat dalam memantau perkembangan cuaca.
Kenaikan harga pangan ini tentu saja berdampak pada daya beli masyarakat, terutama di daerah-daerah yang bergantung pada bahan pangan segar. Masyarakat diharapkan untuk mengantisipasi perubahan harga ini dan merencanakan belanja dengan bijak.
Analisis Dampak Kenaikan Harga Pangan terhadap Masyarakat
Lonjakan harga pangan akan memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Misalnya, konsumen mungkin harus mengurangi pembelian barang yang harganya melonjak tajam, atau beralih ke komoditas yang lebih terjangkau. Ini dapat berdampak pada kesejahteraan masyarakat, khususnya yang berpenghasilan rendah.
Pudji menekankan bahwa penting bagi pemerintah daerah untuk melakukan koordinasi yang efektif dalam pengendalian inflasi. Kenaikan harga pangan dapat berdampak pada kestabilan sosial, sehingga solusi cepat dan tepat diperlukan.
Kenaikan harga juga tidak hanya terbatas pada komoditas segar. Telur ayam ras dan daging ayam juga menunjukkan kenaikan, dengan harga rata-rata mencapai Rp32.287 per kg untuk telur dan Rp40.039 per kg untuk daging ayam. Ini menambah beban bagi konsumen dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.














