Kantor Staf Presiden (KSP) melakukan pemantauan terhadap tekanan harga komoditas pangan menjelang Ramadan, yang masih dirasakan di berbagai daerah di Indonesia. Meskipun ada tantangan, pasokan pangan nasional secara keseluruhan dinyatakan aman oleh pihak pemerintah.
Namun, beberapa komoditas pangan masih mencatatkan harga tinggi, yang menyebabkan kebutuhan untuk pengawasan lebih lanjut saat bulan suci mendekat. KSP memberikan perhatian khusus terhadap harga komoditas tertentu yang sangat dipengaruhi oleh fluktuasi pasar.
Plt Deputi II Bidang Perekonomian dan Pangan KSP, Popy Rufaidah, mengungkapkan bahwa hingga saat ini, harga pangan strategis dalam kondisi aman, namun beberapa komoditas memerlukan perhatian khusus untuk mengatasi potensi inflasi.
Kondisi Pasokan Pangan Menjelang Bulan Ramadan
Hasil pemantauan menunjukkan bahwa harga pangan strategis masih dapat dikendalikan, meskipun beras medium di beberapa wilayah menunjukkan tanda-tanda kenaikan yang signifikan. Dalam rapat koordinasi, Popy menyatakan bahwa cabai merah dan cabai rawit menjadi fokus yang harus diperhatikan karena sensitif terhadap perubahan cuaca.
Beras medium adalah salah satu komoditas yang menunjukkan variasi harga antar zona. Di zona 1, harga berada pada Rp13.433 per kilogram, lebih rendah dari Harga Eceran Tertinggi (HET), sedangkan di zona 3, harga beras mencapai Rp18.475 per kilogram, jauh di atas HET yang ditetapkan.
Masalah utama beras bukan berasal dari isu pasokan, tetapi distribusi dan akses logistik antara wilayah yang berbeda. Oleh karena itu, pihak pemerintah berusaha mengatasi ketimpangan ini untuk memastikan ketersediaan yang merata.
Dampak Kenaikan Harga Protein Hewani
Selain beras, harga telur ayam ras juga mengalami tekanan yang signifikan. Harga nasional untuk telur mencatatkan Rp33.800 per kilogram, yang lebih tinggi sekitar 12,7 persen dari harga acuan. Penurunan harga telur dalam sebulan terakhir mungkin dipengaruhi oleh fluktuasi harga jagung pakan ternak yang tetap tinggi.
Jagung pakan juga menunjukkan kenaikan harga, dengan catatan berada di kisaran Rp7.000 per kilogram, menyulitkan peternak dalam hal biaya produksi. Hal ini berdampak tidak hanya pada peternak tetapi juga pada konsumen yang membeli produk akhir.
Harga daging ayam ras berada dalam kategori waspada, dengan harga nasional sekitar Rp41.800 per kilogram. Meskipun ada penurunan bulanan, disparitas harga di tingkat daerah menunjukkan kenaikan yang signifikan dan perlu perhatian lebih lanjut.
Kondisi Harga Komoditas Hortikultura dan Sektor Lainnya
Harga bawang merah mencatatkan status yang tidak aman meskipun terdapat tren penurunan. Saat ini, harga hampir Rp45.700 per kilogram, menunjukkan bahwa meskipun ada penurunan, harga masih jauh di atas HAP yang ditentukan. Disparitas harga antarprovinsi pun masih cukup tinggi.
Harga bawang putih bahkan mengalami kenaikan, sementara harga cabai rawit merah menunjukkan pergerakan yang positif dengan penurunan hampir 19 persen dalam sebulan terakhir. Ini menandakan bahwa pasokan cabai mulai membaik, meskipun kendala distribusi masih tetap ada.
Di sisi lain, harga cabai merah keriting sudah masuk dalam kategori aman, tetapi disparitas harga antar daerah mencapai 56 persen, yang menimbulkan kekhawatiran akan inflasi di masa mendatang.
Tantangan Distribusi dan Penanganan Inflasi Pangan
Masalah utamanya adalah bukan pada pasokan pangan nasional, namun lebih kepada ketidakmerataan dalam distribusi antar daerah. Popy menekankan bahwa penguatan kontrol terhadap harga di daerah, serta percepatan intervensi pasar, merupakan langkah yang sangat penting demi menjaga stabilitas harga.
KSP juga mencatat bahwa terdapat empat komoditas yang memiliki risiko inflasi tinggi, termasuk beras, cabai merah, dan jagung. Komoditas-komoditas ini memerlukan perhatian ekstra menjelang Ramadan karena pengaruhnya yang besar terhadap daya beli masyarakat.
Pemerintah mendorong intervensi pasar yang lebih awal, termasuk tindakan operasi pasar dan penyaluran beras untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Ini semua bertujuan untuk menjaga stabilitas harga dan mencegah kemungkinan inflasi yang lebih tinggi di masa mendatang.














