Arab Saudi kini semakin berambisi untuk memposisikan diri sebagai kekuatan baru dalam industri mineral dunia. Dengan klaim memiliki cadangan mineral bernilai sekitar US$2,5 triliun atau setara Rp41,9 triliun, negara ini mulai menarik perhatian sebagai pemain utama dalam perebutan mineral langka yang semakin dicari secara global.
Pergeseran fokus ini menjadi lebih signifikan setelah pengumuman mengenai kesepakatan mineral di Greenland. Isu mineral tanah jarang kian menarik perhatian, terutama terkait teknologi energi bersih dan produk-produk canggih di era modern.
Mineral kritis seperti tanah jarang adalah fondasi penting dalam pengembangan teknologi seperti kendaraan listrik dan sistem energi terbarukan. Kesadaran akan pentingnya mineral ini mendorong Arab Saudi untuk berinvestasi lebih besar dalam sektor pertambangan.
Fokus Arab Saudi Terhadap Sumber Daya Mineral yang Melimpah
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa Arab Saudi memiliki cadangan emas, seng, tembaga, dan litium, yang termasuk dalam kategori mineral langka. Mineral seperti neodymium dan dysprosium digunakan secara luas dalam industri otomotif dan penyimpanan energi.
Berdasarkan laporan terbaru, anggaran eksplorasi tambang Saudi mengalami lonjakan dramatis, mencapai 595 persen antara tahun 2021 hingga 2025. Meskipun demikian, investasi ini masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan negara-negara lain yang memiliki industri pertambangan yang lebih matang.
Pemerintah Saudi aktif menerbitkan izin tambang baru untuk menarik perusahaan lokal dan asing. Ini adalah langkah strategis untuk meningkatkan produksi mineral dan mengurangi ketergantungan pada minyak.
Tantangan yang Dihadapi dalam Ekspansi Sektor Mineral
Meskipun langkah Saudi dalam eksplorasi tambang sangat ambisius, realita lapangan memperlihatkan bahwa hasil tidak bisa langsung dinikmati. Proyek pertambangan umumnya memerlukan waktu yang lama untuk membangun infrastruktur yang diperlukan.
Direktur Eksekutif Minerals Center SAFE mencatat bahwa perlunya investasi yang besar dan waktu yang lama untuk melihat hasil produk pertambangan. Pengembangan infrastruktur pemrosesan mineral bisa memakan waktu hingga tiga hingga lima tahun, bahkan lebih di kawasan tertentu.
Saudi berusaha mengurangi birokrasi dan memperoleh investasi yang lebih besar untuk mencapai tujuannya. Dalam sebuah forum, perusahaan tambang negara mengumumkan rencana investasi yang besar dalam dekade mendatang.
Visi Jangka Panjang Arab Saudi di Sektor Mineral
Menurut Visi 2030, sektor pertambangan ditetapkan sebagai salah satu pilar utama dalam strategi diversifikasi ekonomi. Meskipun cadangan mineral mungkin masih kalah dibandingkan dengan cadangan minyak, pemerintah melihat sektor ini sebagai masa depan yang sangat strategis.
Pemerintah Saudi berambisi untuk mengembangkan rantai pasok domestik, termasuk dalam produksi kendaraan listrik. Infrastruktur yang terus berkembang di negara ini dapat menjadikannya sebagai pusat pemrosesan mineral di tingkat regional.
Bermitra dengan negara-negara Afrika juga dianggap sebagai langkah strategis untuk memperoleh mineral yang diperlukan. Ini tidak hanya menguntungkan Saudi tetapi juga berpotensi memperkuat hubungan diplomatik di kawasan.















