Ternyata, putrinya yang tengah berkuliah di Langsa sempat berusaha pulang saat banjir masih parah. Namun, di tengah perjalanan menuju rumah, para warga yang berpapasan dengannya mengingatkan untuk kembali lagi.
“Banyak yang mengingatkan, ‘Dek kalau sayang nyawa balik lagi dek”. Untung anak saya balik lagi ke arah Langsa,” kata Rita.
Ternyata putri pertama Rita pun tak bisa kembali ke Langsa. Anak pertama Rita pun menghentikan motor untuk tinggal sementara di pengungsian.
“Saat di pengungsian, ia pernah hanya makan satu mi instan mentah untuk satu hari. Setengah untuk pagi, lalu setengahnya lagi untuk malam hari.”
Pada hari keenam Rita, mengungsi banjir pun telah surut. Putri pertama Rita akhirnya bisa melajukan motornya ke arah Kejuruan Muda untuk bertemu ibu dan tiga adiknya.
“Lega, lega sekali bisa bertemu anak,” tutur Rita.
Menghadapi Banjir yang Menghancurkan Harapan Keluarga
Banjir telah menjadi bencana yang merusak banyak harapan dalam kehidupan masyarakat. Kita sering mendengar kisah orang-orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka demi keselamatan.
Dampak dari banjir bukan hanya merusak harta benda, tetapi juga memisahkan anggota keluarga. Banyak yang terjebak di lokasi yang berbeda, merasa kehilangan satu sama lain.
Rita dan keluarganya adalah salah satu contoh nyata dari dampak banjir tersebut. Mereka merasakan betapa beratnya situasi ketika harus terpisah dan berjuang untuk bisa berkumpul kembali.
Kehidupan di Pengungsian saat Bencana Melanda
Tinggal di tempat pengungsian adalah tantangan tersendiri. Makanan, tempat tidur, dan privasi menjadi isu yang krusial bagi banyak pengungsi.
Putri pertama Rita harus berjuang menghadapi kondisi tersebut. Ia hanya bisa mengandalkan mi instan untuk bertahan hidup selama berhari-hari.
Di pengungsian, sebagian besar masyarakat saling membantu. Namun, tetap saja, keadaan yang tidak nyaman memengaruhi mental dan kesejahteraan mereka.
Kekuatan Rasa Solidaritas dalam Menghadapi Banjir
Walaupun kondisi sulit, hadirnya rasa solidaritas di antara warga sangat membantu. Mereka saling memberi dukungan moral dan fisik untuk saling menguatkan di tengah kesulitan.
Rita merasa bersyukur banyak orang yang mau membantu, baik itu dalam bentuk makanan, sandang, maupun semangat. Rasa kebersamaan ini membuat mereka tetap optimis meski banyak kendala di hadapan.
Solidaritas juga terwujud dalam bentuk berbagi cerita dan pengalaman. Masyarakat saling berbagi informasi dan strategi untuk bertahan dalam situasi yang sulit ini.
















