Pemahaman tentang dampak kekacauan visual terhadap kesehatan mental semakin diperhatikan. Kekacauan dalam lingkungan seperti meja yang berantakan bisa memperburuk keadaan pikiran dan memicu stress serta kecemasan.
Psikolog klinis, Madison White, menekankan pentingnya merapikan ruang untuk menjaga kesehatan mental. Ketika ruang dipenuhi kekacauan, pikiran kita pun menjadi terasa sempit dan tidak nyaman.
Salah satu langkah efisien yang bisa diambil adalah dengan merespons kekacauan ini secara proaktif. Menghabiskan waktu sejenak untuk merapikan sudut ruangan bisa menjadi langkah pertama yang berarti.
Dampak Kekacauan Visual pada Kesehatan Mental
Ketika lingkungan kita berantakan, itu bukan hanya soal estetika, tetapi juga menimbulkan efek mendalam pada kesejahteraan. White menekankan, lingkungan yang tidak teratur dapat menambah beban pikiran kita.
Hal ini menjadi kebiasaan buruk yang dapat berlarut-larut jika tidak ditangani. Kekacauan kecil yang dibiarkan menumpuk dapat memicu perasaan malu dan kesedihan.
Maka dari itu, penting untuk menyadari bagaimana lingkungan berpengaruh terhadap perasaan kita. Dengan merapikan satu sudut ruangan, bisa jadi langkah awal untuk meraih ketenangan mental yang lebih baik.
White juga merekomendasikan untuk menggabungkan aktivitas merapikan dengan hal-hal menyenangkan. Misalnya, bisa sambil mendengarkan lagu kesukaan atau menonton acara favorit sambil merapikan.
Dengan cara ini, merapikan menjadi lebih menyenangkan dan tidak terasa membebankan. Hal ini juga bisa meningkatkan motivasi untuk merawat lingkungan sekitar.
Bahaya dari Overthinking yang Terjadi di Dalam Pikiran
Overthinking atau pemikiran yang berlebihan bisa menjadi hambatan dalam kehidupan sehari-hari. White menjelaskan, terus-menerus mengulang kejadian masa lalu atau membayangkan skenario buruk tidaklah produktif.
Banyak orang keliru berpikir bahwa merenung dapat membantu menyelesaikan masalah. Faktanya, ini justru dapat meningkatkan kecemasan dan memperburuk suasana hati.
Salah satu teknik yang dianjurkan adalah cognitive diffusion. Teknik ini membantu kita memberi label pada pikiran sebagai “ini hanya kekhawatiran” agar memberikan jarak emosional.
Menggunakan teknik ini bisa membantu kita melihat situasi dengan lebih objektif. Dengan demikian, kita bisa lebih mudah mengelola emosi yang muncul akibat overthinking.
Hal yang penting adalah melihat perasaan dengan tidak terlalu serius. Bayangkan pikiran tersebut seolah-olah ada dalam film komedi untuk menciptakan sudut pandang yang lebih ringan.
Manajemen Keputusan dalam Kehidupan Sehari-hari
Kita sering kali tidak sadar berapa banyak keputusan kecil yang harus diambil setiap hari. Dari pakaian yang dikenakan hingga pilihan makanan, jumlah keputusan ini dapat menjadi beban mental tersendiri.
Menurut White, membuat terlalu banyak keputusan sepele dapat menguras energi mental. Ketidakpastian dalam banyak pilihan justru berpotensi menimbulkan kebingungan yang tidak perlu.
Untuk mengurangi beban ini, pembagian tanggung jawab dapat menjadi solusi. Baik di rumah maupun di tempat kerja, berbagi tugas dapat membuat beban terasa lebih ringan.
Selain itu, White merekomendasikan untuk menetapkan batas waktu dalam pengambilan keputusan. Misalnya, tentukan lima menit untuk memilih menu makan malam agar tidak terjebak dalam keraguan.
Dengan cara ini, kita tidak perlu selalu berharap membuat keputusan yang sempurna. Yang terpenting adalah meminimalkan waktu yang dihabiskan untuk berpikir terlalu dalam tentang keputusan tersebut.
















