Pihak kepolisian Inggris mengalami krisis serius ketika salah satu penjahat paling terkenal, Ronald Arthur Biggs, berhasil kabur dari penjara. Ia dikenal luas berkat keterlibatannya dalam perampokan kereta terbesar dalam sejarah Inggris, yakni Great Train Robbery, pada tahun 1963, yang hingga kini masih menjadi perbincangan hangat.
Perampokan tersebut mencuri perhatian publik karena melibatkan uang dalam jumlah yang sangat besar. Tak kurang dari 2-3 juta poundsterling diamankan dalam aksi yang terencana matang, dan jika dihitung dengan nilai sekarang, jumlah tersebut mencapai sekitar 50 juta pound atau kurang lebih Rp848 miliar. Kegemparan ini menjadikan Biggs salah satu simbol dari kejahatan terorganisir di Inggris.
Ronald Biggs yang terlibat dalam aksi perampokan akhirnya ditangkap bersamaan dengan 15 orang lainnya pada tahun 1963. Pengadilan menjatuhkan hukuman berat, yaitu 30 tahun penjara, dan ia harus menjalani masa hukuman hingga tahun 1994. Namun, dalam waktu kurang dari dua tahun, Biggs berhasil membebaskan diri dari penjara, sebuah pelarian yang berujung pada kisah petualangan internasional yang tak terduga.
Pelarian Besar Ronald Biggs dan Implikasinya di Luar Negeri
Pada tahun 1965, Ronald Biggs melarikan diri dari Penjara Wandsworth, sebuah lembaga pemasyarakatan dengan keamanan yang sangat ketat. Ia berhasil melaksanakan rencananya dengan bantuan beberapa narapidana lainnya, dan kabar pelariannya segera menyebar ke seluruh media. Belum lama berselang, informasi menyebutkan bahwa Biggs sempat mengambil langkah untuk bersembunyi di Belgia dan Prancis sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Dugaannya sempat mengarah ke Indonesia, dan hal ini menarik perhatian Badan Koordinasi Intelijen Negara saat itu. Informasi yang masuk menyebutkan adanya seorang pria dengan nama belakang “Biggs” yang baru tiba dari Australia. Rencana mereka untuk menggali lebih dalam mengenai keberadaan buronan ini menjadi semakin mendesak.
Tim intelijen melakukan pengawasan yang ketat terhadap pria tersebut, tetapi setelah beberapa minggu menyelidiki, diketahui bahwa orang tersebut bukanlah Ronald Biggs melainkan Donald Biggs, seorang pendeta asal Amerika. Kesalahan identifikasi ini cukup mengganggu operasional dari pihak intelijen, yang terpaksa menghentikan penyelidikan terhadap orang yang salah sasaran tersebut.
Ronald Biggs dan Kehidupan di Brasil Selama Bertahun-Tahun
Setelah menghirup udara bebas, Ronald Biggs memilih untuk bertahan di Brasil dimana hukum ekstradisi dengan Inggris tidak berlaku. Hal ini memberikan peluang bagi Biggs untuk menjalani kehidupannya tanpa terus-menerus dibayangi ketakutan akan ditangkap. Di sana, ia membangun hidup baru sambil menghindari sorotan media yang coba melacak keberadaannya.
Selama bertahun-tahun di Brasil, Biggs memanfaatkan momen untuk menikmati kehidupan yang relatif tenang. Meski jauh dari asalnya, ia tetap menjadi sosok yang dikenal dalam catatan sejarah kriminal Inggris. Cerita-cerita tentang pelarian dan kejahatannya masih menjadi legenda, di mana banyak orang menduga ia akan kembali ke Inggris.
Pada tahun 2001, di usia yang sudah tidak muda lagi, Biggs akhirnya memutuskan untuk kembali ke Inggris. Kembalinya ia disambut kontroversi karena banyak yang bertanya-tanya tentang alasan di balik keputusan tersebut. Namun, saat tiba di Inggris, ia langsung ditangkap dan kembali menjalani hukuman penjara.
Kehidupan Akhir Ronald Biggs dan Dampak Perbuatannya
Setelah kembali ke penjara, Ronald Biggs mengalami berbagai masalah kesehatan yang semakin memburuk. Adanya kepentingan kemanusiaan menyebabkan pihak berwenang memutuskan untuk membebaskannya, meskipun ia tetap dianggap sebagai buronan yang terkenal. Hal ini mengundang banyak komentar dari masyarakat, baik yang mengagumi keberaniannya maupun yang mengutuk kejahatannya.
Perjalanan hidup Ronald Biggs mengajarkan banyak pelajaran tentang konsekuensi tindak kriminal. Meski ia mengalami kebebasan dalam pelariannya, hidupnya tak luput dari pencarian dan kekhawatiran terus menerus. Baginya, pelarian tersebut mungkin hanyalah sebuah pelarian fisik, tetapi secara mental, ia tidak pernah benar-benar lepas dari masa lalunya.
Sementara itu, Donald Biggs, seorang yang tidak ada kaitannya dengan kejahatan yang dialami Ronald, meninggal pada tahun 2013. Keduanya dibedakan oleh waktu dan peristiwa yang sangat berbeda, tetapi hidup mereka saling beririsan dalam konteks kegagalan dan kesalahpahaman yang mencolok. Hal ini menunjukkan betapa kompleksnya identitas dan reputasi seseorang dalam masyarakat.
















