Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) baru-baru ini mengumumkan adanya temuan berupa delapan jenis obat palsu yang beredar di masyarakat. Penemuan ini menjadi sorotan karena obat-obatan yang kerap ditemukan ini rentan terhadap tindakan pemalsuan serta dapat berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.
Salah satu tujuan dari pengumuman ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya obat palsu. BPOM juga meluncurkan kanal Komunikasi Risiko Obat Palsu, yang dirancang untuk memberikan informasi terkini mengenai pengawasan dan identifikasi obat-obatan yang tidak dalam standar yang diharapkan.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan satu dari sepuluh produk medis yang beredar di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah adalah produk substandard atau palsu. Sayangnya, fenomena ini umum terjadi dan memerlukan perhatian serius dari semua pihak.
BPOM mengharapkan agar masyarakat semakin jeli dalam mengenali obat yang mereka konsumsi. Keberadaan kanal informasi ini diharapkan dapat membantu masyarakat dalam mendapatkan informasi yang benar dan mendukung tindakan pencegahan terhadap peredaran obat-obatan palsu.
Apa Saja Delapan Jenis Obat Palsu yang Ditemukan BPOM?
Pada hasil pengawasan yang dilakukan oleh BPOM, ditemukan setidaknya ada delapan jenis obat yang sering dipalsukan. Masyarakat sangat disarankan untuk mengetahui jenis-jenis obat ini agar dapat lebih berhati-hati saat melakukan pembelian.
- Viagra
- Cialis
- Ventolin inhaler
- Dermovate krim
- Dermovate salep
- Ponstan
- Tramadol hydrochloride
- Hexymer/Trihexyphenidyl hydrochloride
Obat-obatan tersebut memiliki potensi risiko tinggi bagi konsumen. BPOM mengingatkan bahwa konsumsi obat palsu dapat mengakibatkan keracunan, efek samping yang serius, sampai resistensi obat yang dapat berujung pada ketergantungan.
Dalam konteks ini, Tramadol dan Trihexyphenidyl merupakan dua contoh obat yang sering dipalsukan, mengingat bahwa penggunaan keduanya dapat memicu sensasi tertentu yang menarik bagi beberapa pengguna. Oleh karena itu, BPOM menekankan pentingnya edukasi masyarakat dalam mengenali dan mengetahui informasi tentang obat-obatan tersebut.
Pentingnya Edukasi dan Cek Kelayakan Obat
Taruna Ikrar selaku Kepala BPOM menekankan pentingnya masyarakat untuk cermat sebelum membeli obat. Salah satu cara untuk memastikan bahwa obat yang hendak dibeli aman digunakan adalah dengan menggunakan prinsip CeKLIK, yakni cek kemasan, label, izin edar, dan tanggal kedaluwarsa.
Penting juga untuk memastikan obat hanya dibeli di tempat resmi, seperti apotek atau toko obat yang telah terjamin keamanannya. Masyarakat diminta untuk tidak ragu untuk mengecek keberadaan izin edar obat melalui laman resmi atau aplikasi yang disediakan oleh BPOM.
Selain itu, masyarakat juga disarankan untuk mencari informasi tambahan mengenai obat yang hendak dikonsumsi. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi risiko terjebak dengan produk-produk palsu yang merugikan kesehatan.
Risiko Kesehatan yang Ditimbulkan oleh Obat Palsu
BPOM menyampaikan bahwa penggunaan obat palsu membawa risiko serius bagi kesehatan. Dari keracunan hingga kematian, dampak konsumsi obat yang tidak terjamin kualitasnya sangat merugikan jiwa manusia.
Salah satu potensi bahaya dari obat palsu adalah adanya kandungan zat berbahaya atau tidak tepat dalam sediaan obat tersebut. Ini bisa mengakibatkan efek samping berat atau bahkan komplikasi yang mengancam nyawa.
Terlebih lagi, obat yang dipalsukan sering kali mengandung zat yang tidak terdaftar sebagai bahan aktif, yang berpotensi merusak fungsi tubuh. Hal ini bisa menyebabkan kecanduan, terutama bagi obat-obatan yang bekerja langsung pada sistem saraf.
Kondisi ini menggarisbawahi pentingnya kewaspadaan seluruh elemen masyarakat. Pelaku usaha di bidang farmasi dan kesehatan diwajibkan untuk menjaga kualitas dan keamanan produk yang mereka tawarkan kepada konsumen.
Tindakan Tegas terhadap Produksi dan Peredaran Obat Palsu
BPOM berjanji akan mengambil tindakan tegas terhadap siapapun yang terbukti memproduksi atau mengedarkan obat palsu. Tindakan ini penting untuk menegakkan keadilan dan perlindungan bagi masyarakat.
Taruna mengungkapkan bahwa langkah-langkah pencegahan yang lebih ketat akan diterapkan untuk mengawasi peredaran obat dan memastikan hanya produk yang terjamin aman yang tersedia di pasaran. Ini termasuk pemeriksaan rutin dan audit terhadap produsen dan distributor.
Dengan segala langkah ini, diharapkan masyarakat dapat mendapatkan informasi yang jelas dan dapat dipercaya mengenai obat-obatan. Kesadaran yang lebih tinggi di kalangan konsumen diharapkan mampu melawan penyebaran obat-obatan palsu.
Penting bagi masyarakat untuk mengenali ciri-ciri obat yang ilegal dan tidak terdaftar. Upaya kolaboratif antara BPOM, pelaku industri, dan masyarakat sangat diperlukan agar peredaran obat palsu dapat diminimalisir.
















